SHALAWAT NABI PALING KUNO

Sholawat nabi Ada berbagai macam Sholawat yang beredar di muka bumi ini…. bisa mencapai 12 ribu macam sholawat yg sanat nya shohih. Namun, di Antara 12.000 Sholawat ada sholawat yang paling sepuh, sholawat yg paling kuno, sholawat tersebut yg biasa di sebut dengan nama sholawat jibril, ada yg menyebut nya dengan sebutan sholawat Baburrohmah, lafat sholawat tersebut Adalah : “SHOLLALLAH ALA MUHAMMAD” sebagaimana penjelasan di bawah ini :

SHOLLALLOH ALA MUHAMMAD

Artinya: ”Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Muhammad”

Imam asy-Sya’roni berkata: “Rasulullah saw, pernah bersabda: Barangsiapa membaca shalawat ini, maka ia telah membuka tujuhpuluh (70) pintu rahmat untuk dirinya dan Allah akan menumbuhkan rasa cinta kepadanya pada hati manusia sehingga mereka tidak akan marah kepadanya, kecuali orang yang menyimpan kemunafikan di dalam hatinya.”

Guru kami yaitu ‘Aliya al-Khawash berkata: “Hadis ini, beserta hadis sebelumnya, yaitu sabda Nabi saw: Paling dekatnya salah seorang kamu kepadaku adalah pada saat ia mengingatku dan membacakan shalawat untukku, kami riwayatkan dari sebagian ahli ma’rifat, dari al-Khidlir as, dari Rasulullah saw. Dua hadis ini menurut kami berkualitas shahih dengan derajat keshahihan tertinggi, meskipun para ahli hadis tidak berani menetapkan kesahehannya karena rumitnya istilah yang mereka pergunakan, wallahu a’lam,

Adapun yang menguatkan pendapat ini adalah sebuah hadis yang dikutip oleh as-Sakhawi dari Majd al-Din al-Fairuz Abadi, penulis kamus terkenal, dengan menyandarkan sanad kepada Imam as-Samarqandi. Ia berkata: “Saya mendengar Nabi khidlir dan Nabi Ilyas as berkata: Kami mendengar Rasulullah saw bersabda: Tidak seorang pun yang membaca: Shallallahu ‘ala Muhammad (Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada
Muhammad), kecuali bahwa manusia akan mencintainya walaupun sebenarnya mereka membencinya. Demi Allah, mereka tidak akan mencintainya kecuali setelah Allah’azza wa jalla mencintai dia.” Dan kami pernah mendengar Rasulullah bersabda dari atas mimbar: ”Barangsiapa membaca shalawat ini maka ia telah membuka tujuhpuluh (70) pintu rahmat untuk dirinya.”

*Keterangan ini di ambil dari kitab Afdlolus sholawat ala sayyidis sadat, Halaman ke 37, karya syekh yusuf bin ismail an-nabhani
Beliau Wafat tahun 135 Hijriyah
Cetakan “Darul Kutubul Ilmiyyah”
Cetakan ke 5

Sholawat ini ada juga yg menyebutnya sebagai sholawat khidlir, sholawat baburrohmah, sholawat rohmah, sholawat qosor, shoolawat gembolan, dll…

Sholawat ini di sebut sholawat khidlir karena dalam hadits yg menjelaskan sholawat ini di riwayatkan oleh Nabi khidlir,
Ada yg menyebutnya dengan nama sholawat Baburrohmah ( pintu kasih sayang), karena di dalam hadits tersebut ada kata ” baban minar rohmah” artinya pintu kasih sayang
Demikian juga di sebut dengan shalawat rahmah artinya kasih sayang, karena salah satu dari keutamana shalawat ini yg di jelasakan dalam hadits tersebut bisa menumbuhkan rasa kasih sayang
Ada juga yg menyebutnya dengan nama Sholawat Qoshor artinya sholawat pendek, karena di antara beberapa sholawat, sholawat inilah yg paling pendek.

Konon setelah tercipta Siti hawa bagi Nabi adam. Allah swt melarang Nabi adam mendekati calon istrinya itu sebelum memberi mahar. mahar itu harus berupa salawat dan Jibril Mentalqilkan salawat “Shallallah ala muhammad” kepada nabi adam. Karena itu salawat ini diberi nama Salawat Jibril. MAKA DARI ITU SHALAWAT INI MERUPAKAN SHALAWAT YANG PALING KUNO ( PALING SEPUH )

Menurut mbah Kholil di namakan sholawat gembolan ”Shalawat gembolan itu artinya sing bisa digembol. Artinya, bisa dibawa dan diamalkan ke mana-mana,”

Di daerah jawa timur da sebuah jamaah yg mempunyai kegiatan rutin membaca sholawat tersebut
“shollalloh ala muhammad” di baca 1000x atau lebih, di baca dengan suara keras secara bersama sama, kegiatan rutin ini di lakukan di beberapa tempat yg berpusat di daerah karangsari kota blitar

Berikut beberapa tempat yg kami ikuti:
1. pada malam jum’at legi bertempat di karangsari kota blitar- utara terminal blitar
2. pada malam minggu legi bertempat di makam sunan ampel surabaya
3.pada malam jum’at pon dan malam jum’at kliwon bertempat di cukir-depan pasar cukir barat jalan raya cukir
4.pada malam jum’at pahing dan malam jum’at wage
bertempat di semelo kayen Jombang – barat pasar
perak jombang

kegiatan di mulai bakda sholat isya’ sampai selesai

Kami mengikuti kegitan ini sejak tahun 2013,
Sebelum saya bergabung dengan jamah tersebut sebenarnya sudah lama saya mengamalkan shalawat ” Shollalloh ala muhammad” namu belum bisa rutin seperti sekarang,
Dulu hanya saat membutukan suatu dana baru saya amalkan, alhamdulillah hanya beberapa hari saya amalkan allah sudah memberikan jalan keluarnya, setalah itu berhenti, dan ketika ada hajat lagi baru saya amalkan kembali, hal seperti itu berulang beberapa kali

Alhamdulillah setelah ikut jamaah shalawat ada hajat atau tidak tetap saya amalkan inysa allah bisa rutim hingga saat ini,
Dulu yg saya baca hanya “shollalloh ala muhammad” saja, kemudian setelah mengikuti jamaah tersebut ada tambahan lafat sesuai yg telah di tentukan oleh pendirinya…
Sekian terimakasih semoga bermanfaat
By Mbah Faams

Sayyidul Istighfar

Sayyidul Istighfar

Tentang sabda Nabi, Sayidul Istighfar yaitu seorang hamba mengatakan “Allahumma anta rabbi laailaahailla anta” hadits ini mencakup pengetahuan yang berharga yang karenanya dikatakan sebagai sayidul istigfar. Karena inti hadits ini adalah pengenalan hamba tentang Rububiyyah Allah, kemudian mengagungkan-Nya dengan tauhid Uluiyyah (Laa ilaaha illa anta) kemudian pengakuan bahwa Dialah Allah yang menciptakannya dan mengadakannya yang sebelumnya tidak ada , maka Dia yang lebih layak untuk berbuat ihsan kepada-Nya atas ampunan dosanya sebagaimana perbuatan ihsan atasnya karena penciptaan dirinya

Kemudian perkataan “Wa ana abduka“  yaitu keyakinannya akan perkara ubudiyah, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan Ibnu Adam untuk diri-Nya dan beribadah kepda-Nya sebagaimana disebutkan dalam sebagian atsar  Allah Ta’ala berfirman :

 

“Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk-Ku dan Aku ciptakan segala sesuatu karenamu, maka karena hak-Ku atasmu maka jangan kau sibukan dengan apa yang telah Aku citpakan untukmu dari yang Aku ciptakan kamu untuknya (ibadah).”

 

Di dalam atsar yang lain disebutkan : “Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk beribadah kepada-Ku maka jangan bermain-main, dan Aku telah menjaminmu dengan rizkimu maka jangan merasa lelah (dari berusaha), Wahai Ibnu Adam mintalah kepada-Ku niscaya engkau akan dapati Aku, jika engkau mendapatkan Aku maka engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika engkau luput dari Aku maka engkau akan luput pula dari segala sesuatu, dan Aku mencintai kamu dari segala sesuatu.”
Maka seorang hamba apabila keluar dari apa yang Allah ciptakan untuknya berupa ketaatan dan ma’rifat kepada-Nya, mencintai-Nya, inabah (kembali) kepada-Nya dan tawakal atas-Nya, maka dia telah lari dari tuannya. Apabila taubat dan kembali kepada-Nya maka dia telah kembali kepada apa yang Allah cintai, maka Allah akan senang dengan sikap kembali ini. Oleh karena itu Nabi Shallahllahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang berita dari Allah :

 

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubatnya hamba dari pada gembiranya seseorang yang mendapatkan kembali tungganganya yang hilang di suatu tempat dengan membawa makanan dan minumannya, Dialah yang memberikan taufiq kepadanya dan Dia pula yang mengembalikan barangnya kepadanya.”

 

Maka ini adalah ihsan dan karunia Allah atas hamba-Nya. Maka hakikat dari ini adalah agar tidak ada sesuatu yang lebih dicintai hamba kecuali Allah.
Kemudian sabdanya : “Wa ana ala ahdika wawa’dika mastathotu”, maka Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya dengan suatu perjanjian yang Allah perintahkan dan larang padanya, kemudian Allah menjanjikan bagi yang menunaikannya dengan suatu janji pula yaitu memberikan pahala bagi mereka dengan setinggi-tingginya pahala. Maka seorang hamba berjalan diantara pelaksanaan atas perjanjian Allah kepadanya dengan pembenaran akan janji-Nya, artinya saya melaksanakan perjanjian-Mu dan membernarkan akan janji-Mu.
Makna ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi :

 

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” 

 

Perbuatan iman yaitu perjanjian yang Allah tawarkan kepada hamba-hanba-Nya sedang ihtisab yaitu pengharapan pahala Allah atas keimanan. Maka ini tidaklah pantas kecuali harus bersamaan dengan sikap pembenaran atas janji-Nya. Dan sabdanya “Imanan wah tisaaban” ini adalah manshub atas maf’ul lahu yang sesungguhnya terkandung padanya pengertian bahwa Allah mensyariatkan, mewajibkan, meridhoinya dan memerintahkan dengannya. Sedang mengharap pahala dari Allah yaitu dengan mengerjakan amalan dengan ikhlas disertai mengharap pahala-Nya.
Sabdanya “mastatho’tu” yaitu bahwa tidaklah aku melaksanakan semua itu kecuali sebatas kemampuanku bukan atas apa yang semestinya dan wajib bagiku. Ini menunjukan dalil atas kekuaran dan kemampuan hamba, dan bahwasanya hamba tersebut tidaklah dipaksa atasnya, bahkan baginya ada kemampuan yaitu berupa beban perintah, larangan, pahala dan siksa. Pada hadis tersebut terdapat bantahan atas Qodariyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya bagi hamba tidak memiliki kekuasaan, kemampuan atas perbuatanya sama sekali, akan tetapi hanya siksa Allah atas perbuatan-Nya bukan atas perbuatan hamba-Nya. Pada hadits ini juga terdapat bantahan terhadap kelompok Majusiyah dan selain mereka
Kemudian perkataan : “Audzubika min syarri ma shana’tu”

Berlindung kepada Allah kemudian menggantungkan diri kepada-Nya, membentengi diri dengan-Nya, lari kepada-Nya dari apa yang dia takutkan, sebagaimana seorang yang lari dari musuh dengan berlindung di balik prisai yang menyelamatkan dia darinya. Pada hadits ini ada penetapan tentang perbuatan dan usaha dari hamba. Dan bahwa kejelekan disandarkan kepada yang berbuat bukan kepada pencipta dari kejelekan itu, maka perkataan “Audzubika min syari ma shana’tu.”  Bahwa kejelekan itu hanya dari hamba, adapun Rabb maka baginya nama-nama yang baik dan segala sifat yang sempurna. Maka setiap perbutan-perbuatan-Nya penuh hikmah dan maslahat, hal ini dikuatkan dengan sabdanya :

 

“… dan kejelekan itu bukan kepada-Mu.” (HR Muslim dalam Doa istiftah)
Kemudain perkataan “Abuu bini’matika alayya“ artinya aku mengetahui akan perkara ini, yaitu aku mengenalmu akan pemberian nikmat-Mu atasku. Dan sesungguhnya aku adalah orang yang berdosa, dari-Mu perbuatan ihsan dan dariku perbutan dosa, dan aku memuji-Mu atas nikmat-Mu dan Engkaulah yang lebih berhak atas pujian dan aku meminta ampun atas dosa-dosaku.
Oleh karena itu berkata sebagian orang-orang arif : semestinya bagi seorang hamba agar jiwanya mempunyai dua hal yaitu jiwa yang senatiasa memuji rabbnya dan jiwa yang senatiasa meminta ampun atas dosanya. Dari sini ada sebuah kisah Al Hasan bersama seorang pemuda yang duduk di masjid seorang diri dan tidak bermajlis kepadanya, maka ketika suatu hari lewat kepadanya beliau berkata : “Apa sebabnya engkau tidak bermajelis dengan kami, maka pemuda itu menjawab ‘ pada waktu itu aku berada diantara nikmat Allah dan dosaku yang mengharuskan aku memuji-Nya atas nikmat tersebut dan istighfar atas dosaku, dan aku ketika itu sibuk memujinya dan beristighafar kepada-Nya dari bermajelis kepadamu’, maka berkata Al Hasan : Engkau lebih fakih menurutku dari Al Hasan.”
Dan kapan seorang hamba bersaksi dengan dua perkara ini maka akan istiqomahlah peribadatannya kepada-Nya dan akan naik kepada derajat ma’rifat dan iman sehingga akan terus merasa kecil dihadapan Allah maka akan semakin tawadhu kepada Rabbnya, dengan demikian ini adalah kesempurnaan peribadatan Kepada-Nya dan berlepas diri dari sikap ujub, sombong dan tipuan amal.
Dan Allah-lah yang memberi petunjuk serta taufiq, segala puji hanya bagi Allah shalawat dan salam atas penghulu kita Muhammad , keluarga dan shahabatnya dan mudah-mudahan ridha Allah atas shahabat Rasulullah semuanya dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baiknya pelindung.

Syekh Muhammad Bahauddin 2

Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.

Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.

Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”…

Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.

Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.

Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.

Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.

Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika. Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.

Tamat

http://www.anfaams.wordpress.com